
Sang Dukun Sakti Ynag Tumbang DI ujung Bambu Kuning
Kisah Nyata Dukun Lili dari Cangkuang, Bandung, 1985
Catatan Sejarah Lisan dari Desa Cangkuang
*Kisah ini bukanlah cerita rekaan. Saya sendiri menjadi saksi hidup saat kejadian itu berusia sekitar 8 tahun. Selain pengalaman pribadi, saya juga menggali informasi dari salah seorang warga Cangkuang yang pada masa remajanya hanya menyaksikan peristiwa tersebut dari dekat, tanpa ikut terlibat dalam pengeroyokan. Beliau menyaksikan langsung bagaimana masyarakat mengeroyok sang dukun hingga tewas. Sayangnya, saya tidak bisa menyebutkan namanya karena alasan tertentu. Saya menulis ini berdasarkan ingatan masa kecil, kesaksian beliau, cerita turun-temurun, dan minimnya narasumber yang masih tersisa. Semoga tulisan ini menjadi catatan sejarah lisan yang tak lekang oleh waktu.*
— Penulis
BAGIAN 1: LATAR TEMPAT DAN TOKOH
Desa Cangkuang Tahun 1985
Desa Cangkuang, Kecamatan Cangkuang, Kabupaten Bandung, tahun 1985 masih terasa kental dengan nuansa pedesaan yang asri. Sawah-sawah hijau membentang di sepanjang jalan setapak berbatu. Rumah-rumah panggung sederhana berdiri dengan dinding anyaman bambu. Di tengah kesederhanaan itu, hiduplah seorang paranormal bernama Lili.
Lili: Tukang Renovasi Payung

Profesi utama Lili sehari-hari bukanlah dukun. Warga lebih mengenalnya sebagai tukang renovasi payung. Pada masa itu, orang masih menganggap payung sebagai barang berharga. Masyarakat tidak serta-merta membuang payung yang rusak. Mereka membawanya ke Lili untuk diperbaiki. Lili terampil membongkar kerangka payung, mengganti kain yang sobek, atau menyambung bambu payung yang patah. Pekerjaan sambilan ini memberinya penghasilan tetap dan membuatnya akrab dengan banyak warga. Kisah kelam Dukun Lili justru lahir dari sosok yang sehari-harinya dekat dengan warga, namun diam-diam menyimpan sisi gelap.
Lili: Perantau yang Kembali ke Kampung
Lili penduduk asli Cangkuang, hanya berbeda RW. Sebelum dikenal sebagai dukun, Lili merantau ke berbagai daerah di Jawa Barat selama bertahun-tahun. Setelah lama merantau, ia akhirnya kembali ke kampung halaman. Konon, selama merantaulah ia berguru kepada beberapa orang pintar dan mengumpulkan berbagai ilmu.
Lili kemudian menetap di desa tersebut setelah mempersunting seorang putri daerah. Istri Lili berasal dari keluarga yang juga memiliki garis keturunan dekat dengan dunia spiritual. Dari sang istri, Lili perlahan mewarisi dan mendalami berbagai ajian. Kabar tentang kesaktiannya menyebar cepat. Warga datang dari berbagai penjuru untuk meminta bantuan. Mereka mencari pengobatan, pengasihan, hingga perlindungan. Seiring waktu, warga pun merasa segan sekaligus takut kepadanya. Namun, di balik kharisma seorang dukun sakti, Lili menyimpan sisi gelap yang tak seorang pun duga.
Nyi Karsih: Janda Muda yang Gelisah
Pada suatu masa, hiduplah seorang pedagang awug (makanan khas berupa kue tepung beras). Sebut saja namanya Nyi Karsih. Sebagai seorang janda muda, Nyi Karsih hidup sebatang kara sejak suaminya meninggal setahun sebelumnya. Setiap pagi, ia mengayuh pikulannya menjajakan dagangan dari rumah ke rumah. Wajahnya yang masih muda dan ramah membuat banyak orang mengenalnya. Namun kesendiriannya juga menjadi sumber keresahan. Nyi Karsih merasa gelisah. Ia ingin segera memiliki pendamping hidup. Setelah mendengar kesaktian dan “kemujaraban” Lili dalam urusan pengasihan, Nyi Karsih memberanikan diri mendatangi rumah sang dukun.
BAGIAN 2: AWAL PETAKA
Nyi Karsih Datang dengan Harapan Polos
Nyi Karsih datang dengan harapan polos tanpa curiga. Ia membawa sedikit buah tangan—sebungkus awug buatannya sendiri—sebagai bentuk penghormatan. Saat itu menjelang sore hari. Langit Cangkuang mulai jingga. Ayam-ayam sudah mulai pulang ke kandang.
Tatapan Lili berubah saat melihat Nyi Karsih. Sorot matanya berganti dari sikap profesional seorang dukun menjadi sesuatu yang lebih gelap. Sang dukun tidak merapalkan mantra pengasihan seperti yang Nyi Karsih harapkan. Lili justru mengajak Nyi Karsih menuju sebuah saung lebak—gubuk reot di tengah kebun yang biasa ia gunakan untuk ritual—jauh dari keramaian.
Petaka di Saung Lebak

Sepanjang jalan setapak menuju saung lebak, Nyi Karsih mulai merasa tidak nyaman. Namun rasa hormatnya kepada sang dukun membuatnya terus melangkah. Di sanalah niat baik Nyi Karsih berubah menjadi petaka. Dalam proses ritual yang dipaksakan, Lili membaringkan Nyi Karsih di atas anyaman bambu yang sudah lapuk dan memperkosanya. Nyi Karsih berusaha melawan, tetapi tenaga Lili bagaikan tak terkalahkan. Kepedihan mendalam menyergap Nyi Karsih—bukan hanya fisik, tetapi juga penghinaan terhadap martabatnya sebagai perempuan. Inilah titik awal kisah kelam tersebut.
BAGIAN 3: KELUARGA KORBAN MELAWAN
Nyi Karsih Pulang dalam Keadaan Hancur
Nyi Karsih pulang dalam kondisi hancur. Bajunya kusut, rambutnya acak-acakan, dan matanya sembab. Saat ayahnya bertanya apa yang terjadi, Nyi Karsih akhirnya menceritakan semuanya dengan suara terputus-putus. Amarah sang ayah meledak. Namun ia tahu ia tidak bisa sendirian menghadapi dukun sakti itu. Ia segera menghubungi calon suami Nyi Karsih—seorang pemuda bernama Dadang. Dadang selama ini telah melamar putrinya dan akan segera menikah.
Ayah dan Dadang Menyerang Lili
Tak lama kemudian, ayah Nyi Karsih mendatangi rumah Lili. Tanpa banyak kata, ayah Nyi Karsih langsung melayangkan pukulan keras ke arah Lili. Dadang pun ikut memukuli dukun itu dengan pentungan kayu yang ia bawa.
Lili Tertawa di Tengah Pukulan
Namun, kejadian aneh terjadi. Lili tidak tersungkur kesakitan. Ia malah tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya menggema di malam hari, membuat bulu kuduk kedua orang itu berdiri. Pukulan demi pukulan hanya terasa seperti angin lalu. Dadang yang tangannya sudah bengkak karena terus memukul, tidak melihat satu pun bekas luka di tubuh Lili. Kini mereka sadar. Mereka tidak sedang berhadapan dengan manusia biasa, melainkan seseorang dengan ilmu kebal yang sangat kuat. Dengan perasaan campur aduk antara marah dan takut, mereka pulang.



