
Kisah Cinta Terlarang Anneke van Deventer
Tragedi Pembunuhan dari Kecemburuan Cornelis
Bab I: Putri yang Hidup dalam Menara Gading Perkebunan Teh
Di tengah gemerlap Hindia Belanda akhir abad ke-19, Anneke van Deventer hidup bagai dewi dalam kuilnya sendiri. Ayahnya, Hendrik van Deventer, seorang juragan Perkebunan Teh Gunung Sari di Jawa Barat yang kaya raya sekaligus arsitek ternama. Perkebunan seluas ribuan hektar di Priangan itu menghasilkan teh berkualitas ekspor yang menjadi sumber kekayaan keluarga.
Kehidupan mewah di Gunung Sari membentuk seorang wanita yang percaya dunia berutang padanya. Selain memiliki kecantikan memesona—rambut pirang terurai dan mata biru kristal—Anneke juga dikenal angkuh di kalangan elite kolonial. Ia sering memandang rendah pribumi, termasuk ratusan kuli yang bekerja di perkebunan teh milik ayahnya.

Orangtuanya telah menjodohkannya dengan Cornelis de Vries, seorang pejabat muda ambisius di pemerintahan kolonial Bandung. Meskipun Cornelis tampan, kaya, dan berasal dari keluarga terpandang di Belanda, di mata Anneke ia hanyalah pria biasa. Pria itu selalu menurut dan membebaninya dengan cinta yang membosankan, sehingga hatinya tetap kosong.
Di rumah megah yang Hendrik bangun khusus untuk putrinya, terdapat sebuah paviliun di sudut kebun yang menghadap langsung ke hamparan perkebunan teh. Di sanalah Anneke biasa menghabiskan waktu berjam-jam, duduk di bangku kayu sambil melamun memandangi para kuli yang memetik daun teh di kejauhan. Paviliun itu pada akhirnya menjadi tempatnya melarikan diri dari hiruk pikuk kehidupan sosial yang ia benci.
Bab II: Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama
Suatu siang di pasar bunga Bandung, takdir mempertemukan Anneke dengan seseorang yang akan mengubah segalanya. Di tengah keramaian, matanya tertumbuk pada seorang pemuda pribumi yang berbeda dari yang lain.

Arifin, juru gambar di salah satu proyek ayahnya, memiliki ketampanan yang tak biasa. Kulit sawo matangnya bersih, postur tubuhnya tegap, dan yang paling memikat—tatapan matanya penuh martabat. Berbeda dari pribumi lain yang selalu menunduk di hadapan orang Belanda, ia mampu menatap lurus ke depan. Hendrik van Deventer sangat menghargai Arifin sebagai pegawai terbaiknya. Pemuda itu bahkan pernah membantu perencanaan perluasan pabrik pengolahan teh di Gunung Sari, dan hasil kerjanya selalu melebihi ekspektasi.

Akan tetapi, Arifin hanya sekilas memandang Anneke, lalu membuang muka dan melanjutkan pekerjaannya. Ia sibuk menggambar sketsa bunga untuk salah satu proyek lansekap.
Penolakan halus ini menghantam harga diri Anneke seperti tamparan. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang tak tunduk pada pesonanya. Selain itu, ada seseorang yang tak terpengaruh oleh aura kekayaan Perkebunan Teh Gunung Sari. Akibatnya, rasa penasaran yang awalnya kecil mulai memicu obsesi berbahaya dalam diri sang putri. Sejak hari itu, Anneke selalu mencari-cari alasan untuk pergi ke lokasi proyek ayahnya karena ia ingin melihat Arifin lagi.
Bab III: Cinta yang Berubah Menjadi Dendam
Hari demi hari, obsesi Anneke pada Arifin semakin menjadi. Ia mulai sering “kebetulan” berada di tempat Arifin bekerja. Ia bertanya pada mandor tentang kemajuan proyek, padahal ia sama sekali tidak tertarik pada urusan konstruksi. Bahkan, ia pernah meminta Arifin mengajarinya menggambar dengan alasan ingin mengisi waktu luang.
Arifin, dengan sikap profesionalnya, tetap menjaga jarak. Ia selalu bersikap hormat namun tidak pernah melebihi hubungan majikan dan pegawai. Ia memanggil Anneke dengan sebutan “Noni” yang formal, dan selalu mencari alasan untuk segera pergi jika mereka kebetulan berdua saja.
Tak seorang pun tahu—bahkan Anneke sendiri tidak sadar—bahwa di dalam hati Arifin, ada getar-getar kecil yang tak bisa ia ingkari. Setiap kali Anneke datang dengan gaun-gaun indahnya, setiap kali matanya yang biru menatapnya dengan penuh harap, ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Ia kagum pada keberanian Anneke yang melampaui batas-batas sosial zamannya. Lebih dari itu, ia tersentuh oleh kesepian yang kadang terpancar dari mata gadis itu, meskipun ia berusaha keras menutupinya dengan sikap angkuh.
Tapi Arifin adalah pria yang sudah terikat janji. Tiga tahun sebelum pertemuan dengan Anneke, ia telah bertunangan dengan Sari, putri tetangganya di kampung halaman. Sari adalah wanita pribumi sederhana yang bekerja sebagai penenun. Hubungan mereka tumbuh alami sejak masa kanak-kanak, dan upacara pertunangan sederhana namun penuh makna telah dilangsungkan di kampung halaman mereka.
Janji pada Sari adalah harga mati. Di samping itu, Arifin tahu persis konsekuensi jika ia—seorang pribumi—berani membalas perasaan seorang noni Belanda. Bukan hanya nyawanya yang akan terancam, tapi juga keselamatan keluarganya, dan mungkin juga Sari. Oleh karena itu, setiap kali rasa kagum itu muncul, ia segera mematikannya. Ia ingat wajah Sari, ingat janji suci yang telah mereka ucapkan, dan sadar bahwa ia harus menjadi pria yang bertanggung jawab.
![]()





