
Sebelum Bandung: Menelusuri Jejak Nama Nama
Lama di Masa Lalu
Kota Bandung kini dikenal sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat dengan julukan Parijs van Java.
Namun, lapisan sejarah yang dalam tersimpan di balik namanya. Sebelum resmi bernama Bandung, wilayah ini memiliki serangkaian identitas yang berubah seiring waktu. Catatan sejarah dan peta kolonial menunjukkan beberapa nama berikut pernah melekat pada wilayah Bandung.
1. Ibu Kota Kerajaan Pajajaran (1488)

Kerajaan Pajajaran (Hindu-Buddha) berdiri dengan pusat kekuasaan di kawasan Pakuan (Bogor saat ini). Wilayah kekuasaannya meliputi Priangan, termasuk cekungan Bandung. Pada tahun 1488, kerajaan ini menjadikan wilayah yang sekarang bernama Bandung sebagai ibu kotanya. Kesultanan Banten dan VOC akhirnya menekan dan meruntuhkan Kerajaan Pajajaran pada akhir abad ke-16.
2. Tatar Ukur (Abad ke-17)
Memasuki abad ke-17, masyarakat lebih mengenal wilayah ini dengan nama Tatar Ukur. Nama ini merujuk pada penguasa setempat bernama Dipati Ukur, seorang bangsawan Sunda. Ia memimpin wilayah Priangan dan memimpin perlawanan besar terhadap Kesultanan Mataram pada tahun 1628–1629. Perlawanannya gagal, tetapi namanya begitu lekat sehingga masyarakat menyebut wilayah kekuasaannya sebagai Tatar Ukur.

3. Bandong / Negorij Bandong (Sekitar 1641)
Memasuki era kolonial, orang-orang Eropa mulai mencatat nama “Bandung” dalam dokumen mereka, meskipun dengan ejaan yang berbeda. Seorang Mardijker (budak yang dimerdekakan) bernama Juliaen de Silva melakukan ekspedisi ke wilayah Priangan. Dalam laporannya pada tahun 1641, ia menyebut adanya sebuah perkampungan yang terdiri dari 25 hingga 30 rumah. Ia menamakannya “Negorij Bandong” (Negeri Bandung).
Ahli arsip bernama Godee Molsbergen mencatat ini sebagai salah satu penyebutan paling awal untuk wilayah itu. VOC dan pemerintah kolonial Hindia Belanda kemudian mengadopsi penamaan ini. Mereka menggunakan nama “Bandong” dalam korespondensi dan peta-peta awal mereka.

4. Krapyak / Dayeuhkolot (Akhir abad ke-17 – 1810)
Kekuasaan Mataram melemah di wilayah Priangan, sehingga VOC mulai mengangkat bupati pribumi untuk mengatur daerah ini. Sekitar pertengahan abad ke-17, Kabupaten Bandung muncul dengan pusat pemerintahannya di Krapyak. Masyarakat setempat kemudian lebih mengenal Krapyak sebagai Dayeuhkolot (yang berarti “kota lama”).
Krapyak berfungsi sebagai ibu kota Kabupaten Bandung selama lebih dari satu abad. Bupati-bupati seperti Tumenggung Wiraangunangun (bupati pertama) hingga R.A. Wiranatakusumah II memerintah dari Dayeuhkolot. Dayeuhkolot berada sekitar 11 km di selatan pusat Kota Bandung saat ini.
Mengapa Berganti Nama Menjadi Bandung?
Transisi dari “Krapyak” atau “Dayeuhkolot” ke “Bandung” terjadi pada masa kepemimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah II (1794–1829). Beberapa alasan kuat mendorong pemindahan ini:
Bencana Banjir: Banjir bandang dari Sungai Citarum sering melanda ibu kota lama di Dayeuhkolot.
Strategi Pemerintahan: Karena banjir sering terjadi dan demi kelancaran proyek Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang Daendels bangun, sang bupati memutuskan memindahkan pusat pemerintahan. Ia memilih wilayah yang lebih tinggi di utara, tepatnya di tepi Sungai Cikapundung (sekitar Alun-alun Bandung sekarang).
Pada tanggal 25 September 1810, ibu kota kabupaten resmi berpindah lokasi. Pemerintah kota kemudian menetapkan tanggal ini sebagai hari jadi Kota Bandung.
Makna Dibalik Nama “Bandung”
Nama “Bandung” yang R.A. Wiranatakusumah II pilih memiliki banyak lapisan makna. Makna-makna ini terhubung erat dengan alam dan budaya setempat:
| Teori | Penjelasan |
|---|---|
| Bendungan | Kata bendung menggambarkan bagaimana lava purba Gunung Sunda/Tangkuban Perahu membendung Sungai Citarum. Peristiwa ini menciptakan Danau Bandung Purba sebelum akhirnya kering menjadi daratan. |
| Perahu Berdampingan | Kata Bandung berasal dari nama kendaraan air, yaitu dua perahu yang diikat berdampingan. Sang bupati menggunakan kendaraan ini untuk menyusuri sungai mencari lokasi ibu kota baru. |
| Berdampingan | Dalam bahasa Indonesia, kata banding berarti “berdampingan”. Makna ini menggambarkan posisi dua perahu atau aspek geografis kota yang diapit dua gunung. |
Kesimpulan
Sebelum menyandang nama Bandung yang kita kenal sekarang, wilayah ini telah melalui perjalanan panjang. Ia pernah menjadi pusat Kerajaan Pajajaran, tanah kekuasaan Tatar Ukur, perkampungan kecil Bandong dalam catatan kolonial, dan berpusat di Dayeuhkolot. Perpaduan antara cerita rakyat, kondisi geologis danau purba, serta kebijakan politik seorang bupati di awal abad ke-19 melahirkan nama yang kita gunakan saat ini.
Terima kasih telah meluangkan waktu membaca. Konten ini akan lebih berarti dengan like, share, dan tanggapan Anda. Kami terbuka terhadap koreksi dan masukan—silahkan sampaikan melalui kolom komentar



