
Sang Dukun Sakti yang Tumbang di Ujung Bambu Kuning
Kenangan Penulis: Saksi Hidup Kisah Nyata Dukun Lili
Saya menulis Kisah Nyata Dukun Lili ini bukan sekadar mendengar cerita. Saya termasuk salah satu anak kecil yang hidup di masa itu. Usia saya saat kejadian tersebut sekitar 8 tahun. Meski belum sepenuhnya paham dengan peristiwa yang terjadi, ingatan itu melekat kuat hingga sekarang.
Saya masih ingat suasana desa yang berbeda setelah malam itu. Orang tua berbicara dengan suara berbisik. Beberapa hari kemudian, rumah Lili mendadak sepi. Tidak ada lagi asap dapur yang mengepul dari atapnya. Anak-anak seperti saya tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tetapi kami merasakan ada sesuatu yang berubah.
Yang paling membekas dalam ingatan saya adalah bekas desa terbengkalai tempat warga menyiksa Lili. Tempat itu terletak tidak jauh dari pemukiman warga. Setiap kali waktu magrib tiba, tidak ada satu pun anak kecil yang berani melewati jalan di dekat bekas desa tersebut. Kami semua—tanpa kecuali—akan berlari sekencang mungkin saat melewatinya. Bukan tanpa alasan.
Cerita Turun-Temurun tentang Angker
Para orang tua dan tetua desa bercerita secara turun-temurun bahwa tempat itu sangat angker. Bekas penyiksaan terhadap sang dukun sakti Lili meninggalkan aura yang tidak biasa. Konon, sisa-sisa energi dari peristiwa dahsyat itu masih terasa hingga bertahun-tahun kemudian. Ada yang mengatakan bahwa tanah di bekas desa itu lebih dingin dari sekitarnya, bahkan di siang hari bolong.
Sebagai anak kecil, kami tidak berani menguji kebenarannya. Kami hanya berlari, tanpa menoleh ke belakang. Kadang, saat senja menjelang, suara anjing yang melolong dari arah bekas desa itu membuat kami semakin ketakutan. Ibu-ibu akan menarik anak-anaknya masuk ke dalam rumah lebih cepat dari biasanya.
Tidak hanya sekadar angker, kabar yang beredar di masyarakat saat itu semakin memperkuat ketakutan kami. Konon, setelah kematian sang dukun Lili, bekas desa terbengkalai tersebut sering menjadi lokasi penampakan dalam wujud yang sangat mengerikan. Mitos ini pun menjadi bagian dari Kisah Nyata Dukun Lili yang terus hidup di kalangan masyarakat.
Penampakan yang Menghantui Warga
Berbagai cerita beredar dari mulut ke mulut. Seorang bapak yang kebetulan pulang larut malam dari sawah mengaku melihat bayangan hitam besar melintas di antara reruntuhan bangunan. Ia bilang bayangan itu bergerak cepat, menghilang begitu ia mendekat. Seorang remaja yang nekat main layangan di dekat bekas desa saat sore hari mengaku melihat sesosok pria dengan wajah pucat berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba menghilang saat temannya berteriak.

Tidak sedikit warga yang mendengar suara-suara aneh seperti rintihan atau tawa yang berasal dari arah bekas desa tersebut, terutama saat malam semakin larut. Beberapa orang yang tinggal di sekitar lokasi mengaku sering terbangun tengah malam karena suara seperti orang memukul-mukul bambu—suara yang mengingatkan pada malam pengeroyokan dulu.
Yang paling sering diceritakan adalah penampakan wujud Lili sendiri—atau setidaknya sesosok yang mirip dengannya—berdiri di lokasi di mana ia dulu diikat dan disiksa. Wujudnya dikatakan sangat mengerikan, dengan sorot mata yang kosong namun menusuk, dan sesekali memperlihatkan senyuman sinis seperti saat ia masih hidup dan tertawa di hadapan pukulan warga.
Tempat yang Selalu Dihindari
Cerita-cerita ini membuat bekas desa terbengkalai itu semakin dihindari, terutama saat malam hari. Bahkan orang dewasa pun tidak berani melintas sendirian. Kami, anak-anak kecil, hanya bisa membayangkan sendiri betapa menakutkannya tempat itu dari cerita-cerita yang terus bergema di setiap senja. Semua ini semakin mengukuhkan Kisah Nyata Dukun Lili sebagai salah satu cerita angker paling terkenal di Cangkuang.
Hingga saya beranjak remaja, bekas desa itu tetap menjadi “garis batas” tidak tertulis bagi anak-anak. Kami tidak pernah bermain di sana, meski siang hari. Orang tua selalu berpesan, “Jangan main di sana, nanti diganggu.” Dan kami patuh, bukan karena takut dimarahi, tetapi karena kami sendiri sudah merasakan suasana mencekam yang menyelimuti tempat itu.
Perubahan Awal di Lokasi Bekas Desa
Seiring berjalannya waktu, kawasan bekas desa terbengkalai tersebut perlahan berubah. Tahun 1990-an, mulai terlihat perubahan. Lahan yang dulu angker itu mulai dibersihkan. Meski masih menyisakan cerita angker yang melekat di benak masyarakat, tempat itu mulai menarik perhatian para investor kecil.
Ada yang mencoba membuka warung, ada yang ingin memanfaatkan lahan untuk usaha. Namun tidak ada yang bertahan lama. Entah karena faktor bisnis atau mungkin masih ada keterkaitan dengan cerita lama yang melekat di tempat tersebut, usaha-usaha itu selalu berhenti setelah beberapa bulan berjalan.
Praktik Dokter di Bekas Lokasi Angker
Yang saya ingat, sekitar tahun 2000-an, lokasi tersebut pernah berdiri sebuah bangunan permanen yang digunakan sebagai tempat praktik dokter umum. Praktik tersebut dikelola oleh Dr. Rika Novia Sari, seorang dokter umum yang cukup lama menempati lokasi itu. Saya sendiri lupa persis berapa tahun beliau berpraktik di sana, tetapi yang jelas tempat itu sempat menjadi lebih ramai. Pasien datang dari berbagai desa, dan suasana sepi yang dulu saya kenal berubah menjadi lebih hidup.

Warga setempat sempat berbisik-bisik, apakah Dr. Rika tahu sejarah kelam tempat itu? Namun sang dokter tidak pernah mengeluhkan hal-hal aneh selama berpraktik di sana. Mungkin memang auranya sudah berubah, atau mungkin beliau sengaja tidak menceritakannya. Yang jelas, keberadaan praktik dokter itu semacam “menormalkan” kembali kawasan tersebut, setidaknya untuk sementara waktu.
Selama masa itu, saya sesekali melihat antrean pasien di depan klinik. Anak-anak kecil pun mulai berani lewat di depan bangunan itu, meski tetap dengan langkah cepat. Suasana yang dulu mencekam berubah menjadi lebih biasa, seolah memori kelam perlahan terkubur oleh waktu.
Setelah Dokter Pindah
Namun, seiring waktu, Dr. Rika Novia Sari juga sudah berpindah ke tempat lain. Setelah beliau pindah, bangunan tersebut beberapa kali disewa oleh pihak lain. Ada yang mencoba membuka warung, ada yang mencoba menjadikannya tempat penyewaan alat pesta, tetapi tidak ada yang bertahan lama.
Saya sempat bertanya kepada salah seorang warga mengapa tidak ada yang bertahan. Ia hanya mengangkat bahu, “Bisnisnya sepi, mungkin. Atau mungkin yang nyewa kurang cocok. Tapi ya, orang-orang juga masih ingat cerita lama. Kalau malam, tetap saja sepi di sana.”
Kembali Terbengkalai
Kini, bangunan tersebut kembali dalam keadaan kosong. Kondisinya terbengkalai lagi, seperti siklus yang kembali ke awal. Dindingnya mulai kusam, catnya mengelupas di sana-sini. Halamannya tidak terawat, rumput ilalang tumbuh setinggi pinggang orang dewasa. Jendela-jendela kaca beberapa ada yang pecah. Suasana sepi menyelimutinya kembali, mengembalikan ingatan pada masa-masa awal ketika tempat itu pertama kali ditinggalkan.
Meski sudah ada bangunan permanen di atasnya, cerita lama tentang angkernya tempat itu—termasuk penampakan-penampakan yang dulu sering dikabarkan—sepertinya tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan masyarakat sekitar. Hingga saat saya menulis ini, para tetua masih berpesan kepada anak-cucu mereka untuk tidak berlama-lama di sekitar lokasi tersebut, terutama saat hari mulai gelap.
![]()



