Sang Dukun Sakti Ynag Tumbang DI ujung Bambu Kuning

Kisah Nyata Dukun Lili dari Cangkuang, Bandung, 1985

BAGIAN 4: WARGA MULAI BERGERAK

Kabar Tersebar Cepat

Keesokan harinya, berita tentang perbuatan Lili tersebar cepat dari mulut ke mulut. Para ibu yang sedang mencuci di sungai membicarakannya dengan suara lirih. Para petani yang sedang istirahat di gubuk sawah saling bertukar cerita. Darah warga Cangkuang mendidih. Mereka tidak ingin keadilan hanya berputar pada amarah keluarga korban.

Puluhan Warga Berkumpul

Menjelang sore hari, puluhan warga berkumpul di halaman balai desa. Beberapa membawa parang. Sebagian lain membawa pentungan. Ada juga yang hanya bermodal bambu runcing. Seorang tetua desa yang dihormati berdiri di tengah dan berseru, “Kita tidak boleh membiarkan orang seperti Lili berkeliaran di desa ini. Apa yang ia lakukan bukan hanya menghina keluarga Nyi Karsih, tetapi menghina kita semua sebagai warga Cangkuang!”

Warga Menyeret Lili

Dengan semangat yang membara, mereka bergerak serentak menuju rumah Lili. Lili yang sedang duduk di teras rumahnya tidak banyak melawan ketika warga menyeretnya. Ekspresinya masih datar, bahkan tersenyum tipis seolah meremehkan gerombolan warga yang mengitarinya.


BAGIAN 5: PENGEROYOKAN DI BEKAS DESA

Lokasi Terbengkalai

Warga membawa Lili ke sebuah kawasan bekas bangunan Desa Cangkuang. Tempat itu sudah lama terbengkalai dan sunyi dari aktivitas warga. Di sana, mereka mengikat Lili pada tiang kayu dan mengeroyoknya habis-habisan.

lili

Lili Kembali Tertawa

Namun lagi-lagi hal yang sama terjadi. Pukulan warga tidak meninggalkan bekas di badan Lili. Parang yang diayunkan salah seorang warga hanya membuat suara nyaring seperti mengenai batu, tanpa melukai sedikit pun. Bahkan senjata tajam pun seolah tumpul saat mengenai kulitnya. Lili hanya tersenyum miring, seolah mengejek semua orang yang ada di depannya.

Frustrasi Warga Mulai Terlihat

Suasana mulai tegang. Beberapa warga mulai berbisik-bisik dengan nada frustrasi. “Apa kita tidak bisa berbuat apa-apa?” tanya seorang pemuda dengan suara putus asa. “Ilmu apa yang melindungi orang bejat ini?”


BAGIAN 6: TETUA ADAT MENGUNGKAP RAHASIA

Tetua Tua Berdiri

Seorang tetua adat yang lebih tua, yang selama ini hanya duduk menyaksikan dari pinggiran, tiba-tiba berdiri. Wajahnya serius, matanya menyipit menatap Lili yang masih tersenyum miring. Ia berjalan mendekati kerumunan dan berbisik kepada beberapa warga.

Bambu Kuning Kunci Pembuka Kesaktian

“Kesaktian ini ada asalnya. Aku ingat cerita dulu, ilmu seperti ini hanya akan terbuka jika kalian pukul dengan bambu kuning. Bambu kuning, bukan bambu biasa,” bisik tetua itu.

Salah seorang warga, yang kebetulan memiliki kebun bambu di belakang rumahnya, segera bergegas berlari pulang. Tak sampai lima belas menit, ia kembali dengan sepotong bambu kuning yang sudah dipotong.

Pukulan Pertama Berhasil

sang dukun lili

Warga memberi jalan. Pria yang membawa bambu kuning itu mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah tubuh Lili. Begitu pukulan pertama mendarat, untuk pertama kalinya raut muka sang dukun berubah. Senyumnya lenyap. Ekspresi kaget dan kesakitan menggantikannya. Ia tersungkur. Tubuhnya yang tadinya “kebal” kini mulai menunjukkan kelemahan.


BAGIAN 7: MASIH BELUM BISA MEMBUNUH

Lili Lemah tapi Tetap Hidup

Warga semakin bersemangat. Mereka mengikat Lili yang sudah lemas di tangga taraje (tangga bambu tradisional). Namun, meski sudah tak berdaya, mereka masih belum bisa membunuhnya. Warga menggunakan berbagai alat tajam. Mereka bahkan sempat membakar tubuh Lili. Tetapi ia tetap utuh. Ia memang lemah, tapi hidup. Bambu kuning hanya membuatnya tak berkutik, namun tidak serta-merta mencabut nyawanya.

Kebuntuan Kembali

Kebuntuan kembali terjadi. Warga saling berpandangan, bingung harus berbuat apa. Beberapa mulai merasa frustrasi. Sementara yang lain masih terus berusaha mencari cara untuk mengakhiri hidup Lili.


BAGIAN 8: SABUK DAN ISIM SUMBER KESAKTIAN

Warga Mencurigai Benda yang Dikenakan

Warga kemudian mengambil inisiatif lain. Seorang warga yang lebih tua berkata, “Mungkin kesaktiannya bukan di tubuhnya, tapi di benda yang ia kenakan. Cari!”

Mereka menelanjangi Lili hingga setengah telanjang. Di sekeliling pinggangnya, mereka menemukan sebuah sabuk tua dari anyaman benang hitam dan sebuah isim—jimat atau rajah yang terbungkus kain kuning. Benda-benda itu melekat erat, seolah menyatu dengan kulitnya. Warga yang mencoba menariknya merasakan daya tahan luar biasa, seperti ada sesuatu yang menolak untuk lepas.

Pencopotan Sabuk

Seorang warga yang dikenal memiliki “keberanian lebih” dalam urusan spiritual maju ke depan. Ia membacakan sesuatu dengan lirih. Lalu dengan gerakan tegas, ia mencopot sabuk dan isim itu. Seketika itu juga, terdengar seperti suara desisan pelan. Sabuk itu pun terlepas.


BAGIAN 9: KEMATIAN DUKUN LILI

Kesaktian Lili Lenyap

Setelah benda-benda tersebut lepas, aura kesaktian Lili lenyap seketika. Kulitnya yang tadinya kebal menjadi lunak seperti manusia biasa. Kini ia menjadi manusia biasa. Warga kembali mengeroyoknya dengan pukulan dan senjata. Tak lama kemudian, Lili—dukun sakti yang sehari sebelumnya masih tertawa di hadapan pukulan—akhirnya tewas.

Malam itu, desa terasa hening. Suara tangis dan doa bercampur dengan suara angin yang berhembus pelan.


BAGIAN 10: MENGEMBALIKAN JENAZAH

Warga Membawa Jasad Lili Pulang

Setelah peristiwa itu, warga Cangkuang tidak serta-merta meninggalkan jasad Lili. Meskipun amarah mereka telah terlampiaskan, rasa tidak enak tetap menghinggapi sebagian warga. Lili adalah juga warga Cangkuang, meski berbeda RW. Mereka membawa jenazah tersebut ke kampung halaman Lili sendiri, yang masih di wilayah Desa Cangkuang, hanya berbeda RW. Warga menyerahkan jasad itu kepada keluarga dan kerabat Lili di kampung asalnya. Mereka ingin menyelesaikan tragedi yang mengguncang kampung secara adat.

Duka Keluarga Lili

Keluarga Lili menerima jenazah dengan duka mendalam. Istrinya yang selama ini mengetahui aktivitas suaminya hanya bisa terdiam. Air matanya mengalir tanpa suara. Prosesi pemulangan jenazah berlangsung sunyi. Warga dari kedua sisi menyaksikan dalam suasana duka, amarah, dan penyesalan yang bercampur menjadi satu.

2.7 3 suara
Article Rating
Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Tampilkan Lebih Banyak

R.TOFAN

Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya berdebu di rak buku; ia kini mengalir di sela jempol dan layar. Jangan remehkan apa yang kamu baca di website, karena jendela dunia kini berbentuk digital
Berlangganan
Memberitahukan tentang
0 Comments
Terbaru
Tertua Paling Banyak Dipilih
Tombol kembali ke atas
0
Saya ingin mendengar pendapat Anda, silakan berkomentar.x