Kisah Cinta Terlarang Anneke van Deventer

Tragedi Pembunuhan dari Kecemburuan Cornelis

Bab VII: Eksekusi yang Dipicu Kecemburuan

Beberapa minggu setelah Arifin mulai pulih, Cornelis menjemput Anneke di rumah megahnya. Hari itu, Anneke tampak lebih tenang karena merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Arifin. Meskipun demikian, ia juga lega karena pemuda itu kini di luar bahaya.

Cornelis datang dengan wajah ramah seperti biasa. Sambil tersenyum, ia membawa sebuket bunga favorit Anneke. “Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” katanya lembut seraya menggandeng tangan Anneke dan membawanya berjalan melewati halaman belakang rumah, melewati deretan bunga mawar yang sedang mekar, menuju paviliun di sudut kebun—tempat favorit Anneke melamun.


Saat-Saat Terakhir di Bawah Bulan Purnama

Di bawah cahaya bulan yang menyinari atap paviliun, suasana tampak damai. Anneke duduk di bangku kayu yang biasa ia tempati. Sementara itu, Cornelis berdiri di hadapannya. Untuk beberapa saat, pria itu hanya diam, menatap Anneke dengan ekspresi yang sulit diartikan.

“Di mana kejutannya, Cornelis?” tanya Anneke dengan sedikit kegugupan.

Wajah Cornelis berubah. Senyumnya lenyap, digantikan oleh dinginnya kebencian yang selama ini ia pendam. Perlahan, ia mengeluarkan pistol dari balik jasnya.

“Arifin? Dia aman di rumahnya. Bahkan aku dengar tunangannya, Sari, sudah datang menjenguk dari kampung,” ujar Cornelis dengan suara penuh kebencian yang menggema di antara tiang-tiang paviliun. “Yang perlu dihukum bukan dia, Anneke.”

Mendengar nama Sari disebut, Anneke tersentak. Matanya membelalak melihat moncong pistol yang mengarah tepat ke dadanya.


Kemarahan Cornelis yang Meledak

“Kau pikir aku tidak tahu?” suara Cornelis naik, penuh amarah. “Kau jatuh cinta pada pribumi itu! Kau rela membahayakan dirimu sendiri demi membalas dendam padanya. Dia menolakmu karena sudah punya tunangan—wanita pribumi biasa! Kau kalah dari wanita kampung, Anneke!”

Setiap kata Cornelis seperti pisau yang menikam jantung Anneke.Cornelis

“Kau mempermainkanku! Kau membuatku jadi penjahat dengan kebohonganmu! Kecemburuanku telah membuka mataku, Anneke. Kau pantas mati karena telah menghinaku!”

Anneke ingin berlari, ingin berteriak. Sayangnya, tubuhnya lumpuh oleh ketakutan. Ia hanya bisa duduk terpaku di bangku paviliun yang biasa ia tempati untuk bermimpi tentang Arifin—kini menjadi saksi bisu mimpi buruk yang menjadi nyata.


Dua Tembakan yang Mengubah Segalanya

Dua tembakan menggelegar, memecah keheningan malam di paviliun itu. Peluru pertama mengenai kepala dan bahu, membuatnya terjatuh dari bangku. Jeritan kesakitannya terputus oleh tembakan kedua yang lebih akurat dan mematikan, tepat di dadanya.

Anneke van Deventer meregang nyawa di lantai paviliun—di tempat yang selama ini menjadi tempatnya melamun, menangis, dan bermimpi tentang cinta yang tak pernah bisa ia miliki. Nafas terakhirnya hanya mampu membisikkan satu nama: “Arifin…”

Cornelis berdiri beberapa saat, menatap tubuh Anneke dengan ekspresi hampa. Lalu ia melarikan diri, meninggalkan paviliun yang berlumuran darah di bawah sinar bulan yang pucat.


Bab VIII: Gelombang Konsekuensi Pasca Pembunuhan

Keesokan paginya, seorang pembantu rumah tangga yang mencari Anneke untuk sarapan menemukan pemandangan mengerikan itu. Tubuh Anneke tergeletak kaku di lantai paviliun, dengan genangan darah mengering di sekitarnya. Jeritan histeris pembantu itu membangunkan seluruh penghuni rumah.

 pembantu rumah tangga

Hendrik van Deventer berlari ke paviliun dan langsung jatuh pingsan melihat putri satu-satunya terbujur kaku. Wilhelmina, ibunda Anneke, menangis tersedu-sedu sambil memeluk tubuh dingin putrinya.

Berita kematian Anneke segera menyebar seperti api. Polisi datang dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Paviliun itu pun ditutup dengan garis polisi, menjadi tempat angker yang tidak lagi ingin didekati siapa pun.

Sementara itu, polisi melacak jejak Cornelis. Mereka menemukannya di Stasiun Bandung, sedang mencoba kabur ke Batavia dengan pakaian kusut dan wajah panik. Menariknya, ia tidak melawan saat ditangkap, seolah sudah pasrah dengan nasibnya.


Pengakuan yang Mengguncang Ruang Sidang

Dalam pengakuannya di hadapan hakim, Cornelis mengungkapkan semuanya—bagaimana cintanya pada Anneke, bagaimana ia menemukan kebenaran tentang perasaan Anneke pada Arifin, dan bagaimana kecemburuan yang membara mengubah rencana pembunuhannya. Ruang sidang hening mendengar kisah tragis itu, terutama saat Cornelis menyebut bahwa Arifin sebenarnya sudah bertunangan dengan wanita pribumi dan itulah sebabnya ia menolak Anneke.

Sebagai hasilnya, pengadilan kolonial menjatuhkan hukuman berat padanya: penjara seumur hidup di Penjara Sukamiskin, tanpa kemungkinan grasi.


Kejujuran Sari yang Menyentuh Hati

Sementara itu, di rumah sakit, Sari duduk di samping ranjang Arifin. Ia telah datang sejak mendengar kabar penyerangan. Meskipun air matanya tak henti mengalir, ia berusaha tegar.

“Kau tahu, Arifin?” bisiknya pelan. “Noni Belanda itu… dia tewas semalam. Cornelis membunuhnya.”

Mendengar itu, Arifin menutup mata. Dalam benaknya, ia membayangkan Anneke dengan mata birunya yang selalu memandangnya penuh harap, kini terbujur kaku di paviliun yang dulu menjadi tempat mereka bertemu. Rasa sakit di dadanya—bukan dari luka fisik, tapi dari dalam hati—membuat napasnya tercekat.

“Aku turut berduka,” sambung Sari lembut. “Aku tahu kau menyimpan perasaan padanya, meskipun kau tak pernah mengaku.”

Arifin membuka mata, menatap Sari dengan pandangan terkejut bercampur bersalah. “Kau tahu?” bisiknya.

Sari mengangguk pelan. “Aku tahu sejak awal, Arifin. Wanita selalu bisa merasakan hal-hal seperti ini. Tapi aku juga tahu kau tetap setia pada janji kita, dan itulah yang membuatku tetap di sini.”

Arifin meraih tangan Sari, menggenggamnya erat. Air mata akhirnya jatuh dari sudut matanya—bukan untuk dirinya, tapi untuk Anneke, untuk cinta yang tak pernah bisa ia balas, dan untuk takdir kejam yang menimpa mereka semua.

“Maafkan aku, Sari,” bisiknya. “Maafkan aku.”

“Tidak perlu,” jawab Sari lembut. “Cinta itu bukan dosa. Yang penting kau tetap di sini, bersamaku.”


Bab IX: Duka Keluarga dan Arwah yang Tak Tenang

Hendrik van Deventer hancur. Kehilangan putri satu-satunya membuatnya jatuh sakit. Penyakit ginjal yang selama ini ia derita semakin parah oleh kesedihan yang tak tertanggungkan.

Sebelum kembali ke Belanda untuk berobat, Hendrik menulis sebuah wasiat yang kuat. Ia menatap paviliun di sudut kebun—tempat yang kini menjadi kuburan putrinya—dan dengan tangan gemetar, ia menulis dalam bahasa Belanda:

“Dit huis is het graf van Anneke’s ziel. Laat hem hier blijven. Ik besluit het huis niet te verkopen.”

“Rumah ini adalah kuburan jiwa Anneke. Biarkan dia tinggal di sini. Aku memutuskan untuk tidak menjual rumah ini.”


Rumah yang Menjadi Saksi Bisu

Hendrik dan Wilhelmina kembali ke Belanda dengan hati hancur. Rumah megah di lereng perkebunan itu pun ditinggalkan kosong, hanya beberapa pembantu tua yang setia menjaganya. Namun para pembantu itu tidak bertahan lama. Setiap malam, mereka sering mendengar tangisan perempuan dari arah paviliun. Beberapa di antaranya bahkan melihat bayangan wanita berambut pirang berjalan menuju kamar Anneke. Karena ketakutan, satu per satu mereka mengundurkan diri hingga akhirnya rumah itu benar-benar kosong.

Meski demikian, paviliun di sudut kebun tetap berdiri—menyimpan rahasia dan jiwa Anneke yang tak pernah benar-benar pergi.


Akhir Hidup Cornelis yang Tragis

Di sel penjaranya, Cornelis mengalami nasib yang tak kalah tragis. Penjara Sukamiskin menjadi neraka hidup baginya. Setiap malam, dalam sel gelapnya, ia melihat Anneke berdiri di sudut sel. Bukan Anneke yang lembut seperti saat masih hidup, melainkan Anneke dengan lubang peluru di dadanya, dengan gaun putih berlumuran darah.

“Kenapa kau bunuh aku, Cornelis?” suara Anneke bergema dalam kepalanya, keras dan penuh tuduhan. “Aku hanya jatuh cinta… seperti kau jatuh cinta padaku. Tapi cintaku tak berbalas, dan kau membunuhku karenanya?”

Cornelis menjerit-jerit memohon ampun setiap malam. Para penjaga mengira ia gila. Akan tetapi, Cornelis tahu—Anneke benar-benar ada di sana, menghantuinya.

Pada malam ketujuh di penjara, Cornelis tidak tahan lagi. Ia merobek kain seragamnya menjadi tali, mengikatnya ke jeruji sel, dan mengakhiri hidupnya. Keesokan harinya, penjaga menemukan tubuhnya tergantung dengan ekspresi aneh di wajahnya—sebuah kelegaan, seolah ia akhirnya menemukan jalan keluar dari teror yang ia ciptakan sendiri. Di dinding sel, tergores dengan kuku, terbaca kata-kata terakhirnya: “Dia masih menghantuiku. Anneke, maafkan aku.”


Epilog: Warisan Tragedi yang Lahir dari Kecemburuan

Setelah pulih dari lukanya, Arifin menghadap Hendrik van Deventer untuk pertemuan terakhir di rumah besar itu. Pertemuan tersebut terjadi beberapa hari sebelum Hendrik dan Wilhelmina berangkat ke Belanda.

“Saya mengundurkan diri, Tuan,” ujar Arifin dengan tenang. “Udara Gunung Sari sudah penuh dengan kenangan yang menyakitkan.”

Hendrik mengangguk lesu. Ia tidak bisa menyalahkan Arifin karena tahu bahwa pemuda ini tak bersalah dalam tragedi yang menimpa putrinya. Bahkan, setelah mendengar pengakuan Cornelis di pengadilan, ia sadar bahwa Arifin adalah korban, bukan penyebab.

“Pergilah, Nak,” kata Hendrik tua dengan suara serak. “Dan maafkan kami semua. Maafkan Anneke. Maafkan cintanya yang tak sampai.”

Arifin mengangguk, lalu pergi meninggalkan rumah itu untuk selama-lamanya. Sebelum pergi, ia sempat melangkah ke paviliun di sudut kebun. Ia berdiri di sana beberapa saat, memandangi lantai kayu yang pernah berlumuran darah Anneke.

Dalam hatinya, ia berbisik, “Aku memaafkanmu, Noni Anneke. Aku tahu perasaanmu tulus. Aku pun menyimpan perasaan itu di sudut hatiku, meskipun tak pernah bisa kuungkapkan. Tenanglah sekarang.”

Ia tak tahu bahwa kata-kata itu akan didengar oleh jiwa Anneke yang gelisah.


Kehidupan Arifin dan Sari Setelah Tragedi

Arifin dan Sari menikah dan membuka biro gambar kecil di Garut. Mereka dikaruniai tiga anak. Hingga akhir hayatnya, Arifin tidak pernah banyak bercerita tentang Anneke. Namun pada suatu malam, saat Sari bertanya tentang luka-luka masa lalunya, dengan pelan ia berkata:

“Ada seorang noni Belanda yang jatuh cinta padaku. Cintanya tulus, tapi caranya salah. Ia datang padaku suatu malam—setelah ia tiada—untuk meminta maaf. Aku sudah memaafkannya. Aku pun mengakui bahwa di hatiku, ada tempat kecil untuknya. Tapi kau, Sari, selalu menjadi yang utama.”

Sari hanya memeluknya erat, tak bertanya lebih lanjut. Cinta itu rumit, pikirnya. Namun yang terpenting, mereka saling memiliki.

Arifin wafat tahun 1998 di usia 82 tahun. Pesan terakhirnya kepada anak-anaknya: “Jika suatu hari nanti kalian ke Bandung, doakan Noni Anneke. Ia sudah lama menunggu didoakan. Ingatlah, cinta itu bukan dosa. Yang menjadi dosa adalah ketika cinta membuat kita menyakiti orang lain.”


Memorial yang Abadi untuk Anneke

Sementara itu, Hendrik van Deventer menjual sebagian besar saham perkebunannya. Dengan uang itu, ia membangun sebuah sekolah untuk anak-anak kuli kebun di tanah yang tak jauh dari lokasi rumahnya. Namun paviliun tempat Anneke tewas ia biarkan tetap berdiri—sebuah memorial diam untuk putri yang tewas karena kecemburuan buta seorang kekasih.

Hingga kini, para pekerja tua di Perkebunan Teh Gunung Sari masih berbisik tentang Anneke van Deventer. Konon, jika malam bulan purnama dan angin berhembus sepoi-sepoi, kadang terdengar suara dua letusan pistol dari arah paviliun, diikuti isak tangis perempuan yang memilukan. Selain itu, ada juga yang mengaku pernah melihat tiga sosok—seorang pria pribumi, seorang wanita pribumi, dan seorang noni Belanda—duduk berdampingan di bangku paviliun, berbincang dalam damai, seolah tiga dunia yang bertemu sebentar sebelum fajar tiba.

Kisah cintanya yang terlarang menjadi pelajaran abadi tentang bagaimana cinta, ketika tak bisa disalurkan dengan benar, bisa berubah menjadi kecemburuan dan tragedi berdarah. Lebih dari itu, kisah ini menunjukkan bagaimana keikhlasan dan keteguhan pada janji, seperti yang ditunjukkan Arifin pada Sari, adalah satu-satunya jalan untuk selamat dari pusaran cinta yang menghancurkan.

Loading

3.3 3 suara
Article Rating
Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Tampilkan Lebih Banyak

R.TOFAN

Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya berdebu di rak buku; ia kini mengalir di sela jempol dan layar. Jangan remehkan apa yang kamu baca di website, karena jendela dunia kini berbentuk digital
Berlangganan
Memberitahukan tentang
guest
0 Comments
Terbaru
Tertua Paling Banyak Dipilih
Tombol kembali ke atas
0
Saya ingin mendengar pendapat Anda, silakan berkomentar.x