Kisah Cinta Terlarang Anneke van Deventer

Tragedi Pembunuhan dari Kecemburuan Cornelis

Share on social media
Bab IV: Pengakuan di Paviliun

Puncak ketegangan terjadi di paviliun kebun rumah Anneke. Suatu sore, Anneke memerintahkan seorang pembantu untuk memanggil Arifin dengan alasan ingin berkonsultasi tentang desain taman di sekitar paviliun. Arifin datang, membawa sketsa dan buku catatannya. Meskipun ia tahu ini jebakan, sebagai pegawai ia tak bisa menolak panggilan putri majikannya.

Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, Anneke berdiri di hadapannya dengan jantung berdebar. Ia telah mempersiapkan kata-kata ini selama berminggu-minggu.

“Arifin,” ia memulai, suaranya bergetar meski berusaha terdengar tegas. “Apa yang harus aku lakukan agar kau mau memandangku? Bukan sebagai mandor ke pekerjanya, bukan sebagai nona kepada pribumi, tapi sebagai pria kepada wanita?”

Arifin terdiam beberapa saat. Dalam hatinya, ia berperang. Sebagian dirinya ingin berkata jujur, bahwa ia pun merasakan getar yang sama. Akan tetapi, ikatan pada Sari dan kesadaran akan realitas sosial yang kejam membuatnya harus tegas.


Kejujuran yang Menyakitkan dari Arifin

Arifin menatap Anneke dengan mata yang sulit dibaca—ada kesedihan di sana, ada penyesalan, tapi juga keteguhan yang tak tergoyahkan. Lalu dengan ketenangan yang justru melukai, ia menjawab, “Bukan tentang apa yang Nonya lakukan, tapi tentang siapa Nonya sebenarnya—dan tentang siapa saya sebenarnya.”

Setelah menarik napas dalam-dalam, ia melanjutkan, “Nonya, saya tidak bisa menghormati kecantikan yang hanya di permukaan, atau kekayaan Gunung Sari yang dibangun di atas keringat dan penderitaan orang lain. Namun, itu bukan alasan utama saya menolak Nonya.”

Anneke membelalak. “Lalu apa?”

Arifin menunduk, lalu kembali menatap Anneke dengan pandangan yang lembut tapi tegas. “Saya sudah bertunangan, Nonya. Tiga tahun lalu, dengan seorang wanita di kampung halaman saya. Namanya Sari. Kami sudah berjanji di hadapan Tuhan dan orang tua kami.”

Kata-kata itu seperti sambaran petir di siang bolong. Anneke terhuyung, wajahnya pucat pasi. “Ka-kau… sudah bertunangan?”

“Ya, Nonya.” Arifin mengangguk pelan. “Janji itu lebih berharga dari semua teh di Gunung Sari. Saya mencintai Sari dengan sepenuh hati. Bukan karena ia cantik atau kaya—ia tidak kaya, Nonya—tapi karena ia tulus, dan kami tumbuh bersama dalam kesederhanaan.”


Perasaan Tersembunyi yang Akhirnya Terungkap

Mendengar itu, Anneke merasa dunia berputar. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cemburu yang membakar, bukan pada Cornelis, tapi pada seorang wanita pribumi sederhana yang tak pernah ia kenal.

“Tapi… tapi…” Anneke terbata-bata, air mata mulai menggenang di matanya yang biru. “Apakah kau sama sekali tidak merasakan apa pun padaku?”

Arifin diam untuk waktu yang lama. Di sinilah letak kejujuran yang paling menyakitkan. Sebenarnya, ia bisa saja berkata tidak dan mengakhiri semuanya dengan cepat. Akan tetapi, ia tidak bisa berbohong, setidaknya pada dirinya sendiri.

“Nonya…” suaranya nyaris berbisik. “Jika saya boleh jujur, dan ini hanya antara saya dan Nonya, tidak untuk diketahui siapa pun… Ada kalanya saya mengagumi Nonya. Keberanian Nonya melampaui batas-batas yang ada, dan kesepian di mata Nonya yang Nonya sendiri mungkin tak sadari… Itu semua menyentuh hati saya.”

Mendengar itu, Anneke tersentak hingga napasnya tertahan.

Akan tetapi, Arifin melanjutkan dengan suara yang mengeras, “Sayangnya, kekaguman tidak cukup. Saya sudah berjanji pada Sari. Di samping itu, Nonya dan saya hidup di dunia yang berbeda. Nonya adalah noni Belanda, putri majikan saya, sementara saya hanyalah pribumi. Jika saya membalas perasaan Nonya, bukan hanya hidup saya yang hancur, tapi juga Sari, keluarga saya, dan mungkin Nonya sendiri. Dunia ini tidak akan membiarkan kita bersama, Nonya. Oleh sebab itu, lebih baik kita tidak memulai sesuatu yang hanya akan berakhir dengan kehancuran.”


Malam yang Panjang dan Penuh Kepedihan

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Arifin pamit pergi. Ia meninggalkan Anneke yang terpaku di paviliun, diam membatu. Air mata yang sejak tadi tertahan kini mengalir deras membasahi pipinya.

Malam itu, Anneke tidak bisa tidur. Bergulat dengan ribuan perasaan yang campur aduk, ia merasakan cemburu pada Sari menggerogoti hatinya. Sementara itu, amarah pada Arifin—yang telah membuka hatinya tapi sekaligus menutup pintu—membuatnya geram. Kemarahan pada dunia yang membuat cinta ini mustahil pun tak kunjung reda. Yang paling menyakitkan, ia marah pada dirinya sendiri karena menjadi pribadi yang tidak bisa dicintai oleh pria yang ia cintai. Di dalam hati yang terluka, tumbuh rencana jahat yang akan menghancurkan banyak nyawa.


Bab V: Pengkhianatan yang Bermula dari Cinta yang Ditolak

Perkebunan Teh Gunung Sari

Dalam kebencian butanya, Anneke menemui Cornelis di rumah dinasnya. Cornelis menyambutnya dengan hangat, seperti biasa. Sebagai tunangan, ia selalu senang melihat Anneke, meskipun wanita itu jarang menunjukkan antusiasme yang sama.

Dengan air mata kepalsuan yang mahir ia peragakan, Anneke menceritakan kebohongannya. Ia tidak menyebut tentang pertunangan Arifin—karena itu akan membuatnya terlihat bodoh setelah jatuh cinta pada pria yang sudah terikat. Sebaliknya, ia menggambarkan Arifin sebagai pegawai lancang yang berani melecehkannya. Ia berkata bahwa Arifin telah menyatakan cinta secara tidak sopan dan mengancam akan menyebarkan fitnah jika Anneke tidak membalas perasaannya.

Cornelis, yang buta oleh cinta dan prasangka rasialnya sebagai orang Belanda, langsung marah besar. Ia percaya setiap kata yang keluar dari mulut Anneke. Bagi seorang pejabat kolonial, seorang pribumi yang berani “mengganggu” perempuan Eropa adalah kejahatan yang tak termaafkan.

“Biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini,” kata Cornelis dengan dingin. “Pegawaimu itu akan tahu tempatnya.”


Akibat Kebohongan yang Mengerikan

Tanpa membuang waktu, Cornelis menyuruh orang-orang kepercayaannya untuk menyerang Arifin. Suatu malam, di jalan sepi menuju perkebunan, sekelompok orang bersenjata menghadang Arifin. Mereka memukulinya hingga babak belur, mematahkan dua tulang rusuknya, dan meninggalkannya tergeletak di pinggir jalan. Sebagai pesan terakhir, mereka berteriak, “Jauh dari sang nona Gunung Sari!”

Berita penyerangan itu sampai ke telinga Hendrik van Deventer keesokan harinya. Tentu saja, Hendrik murka. Arifin adalah pegawai terbaiknya. Melihat pemuda itu terbaring lemah di rumah sakit membuatnya mendesak polisi untuk melakukan penyelidikan serius.

Sementara itu, Anneke mulai dihantui penyesalan. Ia tidak pernah menyangka bahwa kebohongannya akan berakibat separah ini. Setiap malam, ia pergi ke paviliun, duduk di bangku kayu yang biasa ia tempati, dan menangis dalam diam. Pikirannya melayang pada Arifin. Selain itu, ia juga memikirkan Sari yang mungkin sedang menunggu di kampung halaman tanpa tahu apa yang terjadi pada tunangannya. Namun penyesalan datang terlambat. Roda tragedi telah berputar, dan tak ada yang bisa menghentikannya.


Bab VI: Kecemburuan yang Mengubah Rencana Pembunuhan

Cornelis mulai curiga dengan gelagat Anneke yang berubah. Tunangannya itu tampak sering murung dan tak jarang menangis tanpa sebab jelas. Yang paling mencurigakan, ia beberapa kali melihat Anneke diam-diam mengirimkan makanan dan obat-obatan ke rumah sakit tempat Arifin dirawat.

Keingintahuannya memuncak. Cornelis menyelidiki lebih dalam dengan menyuruh orangnya untuk mengorek informasi dari para pembantu di rumah Anneke. Di situlah ia menemukan kebenaran yang menghancurkannya.

Ternyata, Anneke bukan korban, melainkan justru jatuh cinta pada Arifin. Arifin menolaknya bukan karena lancang, tapi karena ia sudah bertunangan dengan wanita pribumi bernama Sari. Penolakan itulah yang memicu kemarahan Anneke, dan kebohongan tentang pelecehan adalah balas dendamnya yang keji.


Perubahan Rencana yang Mengerikan

Yang paling membuat Cornelis terluka adalah kenyataan bahwa Anneke rela membahayakan kehormatan dan nyawanya sendiri demi membalas dendam pada pria yang menolaknya. Cinta Anneke pada Arifin ternyata begitu besar hingga ia nekat melakukan hal gila.

Kecemburuan yang mendalam pun menguasai Cornelis sepenuhnya. Ia merasa dikhianati, dipermalukan, dan dibodohi oleh wanita yang sangat ia cintai. Akibatnya, rencana pembunuhan yang awalnya ditujukan untuk Arifin, berubah drastis.

Malam itu, Cornelis duduk di ruang kerjanya, menatapi foto Anneke di atas meja. Wajah cantik itu kini tampak seperti topeng kebohongan. Dendamnya pun berbalik sepenuhnya kepada Anneke—wanita yang telah mempermalukannya dengan jatuh cinta pada seorang pribumi. Kecemburuan buta inilah yang akhirnya mengarahkan peluru ke target yang salah.


Bisikan Maaf dari Alam Lain

Namun malam itu juga, di ruang perawatan rumah sakit, Arifin terbangun dari tidurnya. Untuk sesaat, ia merasa ada kehadiran—bukan ancaman, melainkan kesedihan mendalam yang mencoba meraihnya dari tempat yang jauh. “Maafkan aku,” bisik suara yang hampir tak terdengar, seperti angin malam yang masuk lewat jendela. Arifin mengerjap, mencari sumber suara, tapi tak ada siapa pun di ruangan itu selain dirinya.

Dalam hati, ia berbisik, “Aku sudah memaafkanmu, Noni Anneke. Aku tahu perasaanmu tulus, meskipun caranya salah. Hanya saja, aku sudah terikat janji. Maafkan aku juga.”

Ia tak tahu bahwa separuh dari jiwa Anneke akan menemukan kedamaian karena maaf ini. Sementara itu, separuhnya yang lain—amarah dan trauma di tempat kematiannya—akan tetap tinggal, menanti selama puluhan tahun untuk diungkap.

Loading

hai pengunjung👋
Senang bertemu denganmu.

Daftar gtratis untuk menerima konten artikel menarik di kotak email masuk Anda setiap bulan.

Kolom ini wajib diisi.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

3.3 3 suara
Article Rating
Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Tampilkan Lebih Banyak

R.TOFAN

Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya berdebu di rak buku; ia kini mengalir di sela jempol dan layar. Jangan remehkan apa yang kamu baca di website, karena jendela dunia kini berbentuk digital
Berlangganan
Memberitahukan tentang
guest
0 Comments
Terbaru
Tertua Paling Banyak Dipilih
Umpan Balik Langsung
Lihat semua komentar

Artikel Terkait

Tombol kembali ke atas
0
Saya ingin mendengar pendapat Anda, silakan berkomentar.x