Rumah Angker Anneke van Deventer

Warisan Tragedi Cinta dan Kematian di Zaman Kolonial

Share on social media

Bab VI: 73 Tahun Kemudian—Karina dan Penemuan Besar

Kedatangan Generasi Keempat

Tahun 2015, Karina de Wit-van Deventer tiba di Bandung. Tepat 73 tahun setelah kematian Anneke van Deventer, ia mewarisi rumah peninggalan Hendrik van Deventer yang telah kosong selama puluhan tahun. Karina adalah generasi keempat dari keluarga van Deventer.rumah horor

Ayah Anneke adalah Hendrik van Deventer. Dari saudara Hendrik, lahirlah Johan van Deventer—sepupu Anneke. Johan memiliki putri bernama Margaretha, yang kemudian menjadi nenek Karina. Margaretha sering bercerita tentang Anneke kepada cucunya. Kini, cicit dari sepupu Anneke itu berdiri di rumah yang penuh kenangan.

Meskipun Anneke meninggal muda tanpa menikah, keluarga van Deventer tetap menjaga kenangan tentangnya selama tiga generasi.

Karina adalah wanita keturunan Belanda-Indonesia yang bekerja sebagai kurator seni. Neneknya, Margaretha van Deventer, sering bercerita tentang Anneke. “Dia adalah bidadari keluarga kita,” kata neneknya. “Cantik, cerdas, tapi terlalu banyak cinta di hati yang tidak tahu ke mana harus pergi.”

Selama ini, Karina hanya mendengar cerita tentang tragedi kelam Anneke dari keluarganya di Belanda. Sekarang, ia berdiri di rumah yang menjadi saksi bisu kisah cinta terlarang itu.

Malam Pertama di Rumah Warisan

Malam pertama Karina menempati rumah warisan itu terasa begitu sunyi. Sunyi, melankolis, dan penuh kenangan. Namun, ia tidak merasa takut. Sebaliknya, ia justru merasakan kehadiran yang menyambutnya—seperti seorang saudara yang telah lama menunggu.

Sembari berkeliling rumah, ia memasuki loteng yang tidak tersentuh selama puluhan tahun. Debu menutupi setiap sudut. Di sana, ia menemukan sebuah peti kayu tua dengan ukiran inisial “A.v.D”.KARINA

Dengan hati-hati, Karina membuka peti itu. Di dalamnya, tersimpan album-album foto keluarga van Deventer. Satu per satu ia membuka lembaran foto yang menguning.

Album Foto yang Menyentuh Hati

Halaman demi halaman membawa Karina kembali ke tahun 1942. Ia membaca sendiri bagaimana Anneke jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arifin, seorang juru gambar pribumi yang bekerja untuk ayahnya. Ia membaca penolakan Arifin yang penuh martabat, yang justru memicu obsesi berbahaya. Dan ia membaca, dengan hati hancur, bagaimana kecemburuan Cornelis—tunangan Anneke sendiri—telah mengubah rencana pembunuhan dari Arifin menjadi eksekusi brutal terhadap Anneke di paviliun kebun. ‘Jadi, inilah sumber segala kesedihan dan kemarahan yang selama ini menghantui rumah ini,’ bisik Karina, air matanya jatuh membasahi halaman-halaman tua itu

Foto pertama menampilkan keluarga besar van Deventer.

Hendrik berdiri tegap di samping istrinya, Wilhelmina, seorang wanita berambut pirang dengan senyum lembut. Di pangkuan Wilhelmina, duduk seorang balita laki-laki berusia sekitar dua tahun—Pieter, adik pertama Anneke. Di samping Hendrik, berdiri seorang anak laki-laki lain yang lebih muda, Jacob, yang baru bisa berdiri dengan bantuan kursi kecil. Sementara di tengah-tengah mereka, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut pirang dikepang dua—Anneke—tersenyum manis ke arah kamera.

Tulisan tangan di bawah foto itu berbunyi: “Gunung Sari, 1927. Keluarga van Deventer: Hendrik, Wilhelmina, Anneke (7), Pieter (2), dan Jacob (1).”

Sambil menelusuri garis wajah Anneke kecil, Karina berbisik, “Dia tidak pernah membayangkan bahwa hanya 15 tahun lagi, ia akan pergi. Kedua adik lelakinya akan tumbuh tanpa kakak perempuan.”

Foto berikutnya memperlihatkan Anneke remaja dengan gaun putih berdiri di paviliun kebun. Selanjutnya, ada potret Pieter dan Jacob pada usia sepuluh dan sembilan tahun. Wajah mereka muram, seolah kamera menangkap kesedihan yang tak terucapkan setelah kematian kakak mereka.

Tanpa sadar, air mata Karina jatuh. “Dia cantik sekali,” bisiknya. “Kini aku mengerti kenapa nenek selalu menangis saat bercerita tentangmu.”

Setiap lembar yang ia buka semakin menenggelamkannya dalam sejarah keluarganya. Semua foto itu menjadi jendela yang membukakan masa lalu.

Penemuan yang Mengubah Segalanya

Di dasar peti, Karina menemukan sebuah buku harian bersampul kulit berwarna biru tua. “Diari Anneke,” desisnya. Tangannya gemetar saat membuka halaman pertama.

Delapan puluh halaman ia baca dalam diam. Tulisan tangan Anneke yang indah mengisahkan cinta, kesepian, dan penyesalan. Dalam salah satu halaman, Anneke menulis tentang adik-adiknya: “Pieter dan Jacob bertanya mengapa aku sering murung. Aku hanya tersenyum. Mereka terlalu kecil untuk mengerti. Suatu hari, saat mereka dewasa, semoga mereka tahu bahwa kakaknya ini hanya sedang jatuh cinta pada orang yang tidak seharusnya.”

Namun, kejutan terbesar belum datang.

Saat ia membalik halaman terakhir diari itu, sesuatu terselip di balik sampul belakang. Sebuah foto kuno yang dilipat rapi. Karina membukanya perlahan.

Dia terkesiap.

Bukan foto keluarga van Deventer yang ia temukan. Bukan juga foto Cornelis atau Hendrik. Melainkan gambar seorang pemuda pribumi foto kebersmaanya di faviliun. Di balik foto, tertulis tulisan tangan Anneke yang indah dalam huruf kursif Belanda:arifin dan anneke bersama

“Arifin. Satu-satunya yang membuatku ingin menjadi manusia yang lebih baik. Maafkan aku yang tidak pernah bisa memilikimu.”

Karina tidak bisa menahan tangisnya. 73 tahun setelah kematian Anneke, rahasia terbesarnya akhirnya terungkap. Foto yang tersembunyi ini adalah bukti cinta sejati Anneke van Deventer—cinta yang tak pernah ia miliki, bahkan dalam kematian.

Koneksi Lintas Waktu

Keesokan harinya, Karina membawa foto itu ke paviliun. Dengan hati-hati, ia meletakkannya di bangku yang sama di mana Anneke menghabiskan waktu terakhirnya.

“Anneke,” bisiknya pelan. “Aku, cicit dari sepupumu, datang dari Belanda untuk menemukan rumahmu. Aku menemukan rahasiamu. Cintamu tidak sia-sia. Arifin memaafkanmu. Aku yakin itu.”

Saat itu juga, angin sepoi-sepoi bertiup dari kebun teh. Wangi melati tiba-tiba memenuhi paviliun. Karina tersenyum, merasa bahwa Anneke mendengarnya.

“Dengarkan, Anneke,” lanjutnya. “Keluargamu tidak pernah melupakanmu. Pieter dan Jacob tumbuh dewasa, menikah, dan memiliki anak. Mereka selalu bercerita tentang kakak perempuan mereka yang cantik. Nenekku selalu bercerita tentang bibinya yang meninggal terlalu muda. Kini, aku di sini. Rumahmu akan kujaga.”

Visi Baru untuk Rumah Warisan

Terinspirasi oleh penemuan ini, Karina memutuskan pendekatan berbeda untuk rumah warisan keluarganya. Ia tidak akan mengubah rumah itu menjadi kafe biasa.

Bersama dengan komunitas heritage Bandung, Karina merenovasi rumah dengan tetap mempertahankan arsitektur asli. Ia menamainya “Rumah Anneke: Galeri dan Arsip Keluarga van Deventer”.

Di ruang utama, ia memajang foto-foto dari album keluarga—Hendrik dan Wilhelmina, Pieter dan Jacob kecil, dan tentu saja, Anneke. Di etalase kaca, ia menempatkan diari Anneke yang terbuka pada halaman tentang Arifin. Sementara di paviliun, ia mendirikan pameran kecil tentang kisah cinta terlarang itu—tanpa menghakimi, hanya memahami.

“Bukan museum kematian yang ingin kubangun,” jelas Karina kepada pengunjung pertama. “Rumah ini adalah rumah kenangan. Anneke bukan hanya korban tragedi. Ia adalah anak perempuan, kakak perempuan, dan manusia dengan hati yang terlalu besar untuk zamannya.”

Tradisi yang Tak Pernah Mati

Para pekerja kebun teh di sekitar rumah memperlakukan rumah dengan hormat luar biasa. Mereka kebanyakan keturunan pekerja zaman Hendrik van Deventer.

Setiap pagi, seorang pekerja tua bernama Pak Karto meletakkan segenggam daun teh pilihan di depan paviliun. “Ini untuk Noni Anneke,” katanya.

Suatu pagi, Karina bertanya mengapa ia melakukan itu. Pak Karto tersenyum, memperlihatkan giginya yang ompong.

“Almarhum simbah saya dulu kerja di sini, Nona. Beliau kenal Noni Anneke. Katanya, Noni Anneke itu bukan orang jahat. Beliau hanya terlalu banyak cinta di hati yang tidak tahu ke mana harus pergi. Daun teh ini… membuat beliau tenang.”

“Simbahmu…” Karina terdiam. “Dia masih ingat Anneke?”

Oh, ya, Nona. Simbah saya dulu sering bawa teh untuk Noni Anneke. Katanya, Noni Anneke suka duduk di paviliun sambil minum teh dan memandang kebun. Tapi simbah juga ingat, ada seorang pemuda pribumi tampan yang bekerja sebagai juru gambar—namanya Arifin. Simbah sering melihat Noni Anneke memandanginya dari kejauhan dengan tatapan yang aneh. Sedih, marah, dan penuh harap, semua jadi satu. Setelah Noni Anneke pergi, simbah bilang arwahnya tak pernah benar-benar tenang. Ia seperti mencari sesuatu—mungkin maaf, mungkin pengakuan atas cinta yang tak pernah bisa ia milik

Karina tersentuh. Selama ini, masyarakat sekitar tidak pernah membenci Anneke. Mereka justru memahami tragedi kemanusiaan di balik kisahnya. Bahkan setelah tiga generasi, tradisi kecil ini terus hidup.

Loading

hai pengunjung👋
Senang bertemu denganmu.

Daftar gtratis untuk menerima konten artikel menarik di kotak email masuk Anda setiap bulan.

Kolom ini wajib diisi.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

0 0 suara
Article Rating
Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Tampilkan Lebih Banyak

R.TOFAN

Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya berdebu di rak buku; ia kini mengalir di sela jempol dan layar. Jangan remehkan apa yang kamu baca di website, karena jendela dunia kini berbentuk digital
Berlangganan
Memberitahukan tentang
guest
0 Comments
Terbaru
Tertua Paling Banyak Dipilih
Umpan Balik Langsung
Lihat semua komentar

Artikel Terkait

Tombol kembali ke atas
0
Saya ingin mendengar pendapat Anda, silakan berkomentar.x