Rumah Angker Anneke van Deventer

Warisan Tragedi Cinta dan Kematian di Zaman Kolonial

Bab IV: Rahasia Hati Arifin yang Tak Terungkap

Pertunangan Rahasia dengan Sari

Sebelum kita memahami tragedi sepenuhnya, kita harus mengetahui rahasia yang selama ini tersembunyi. Faktanya, penolakan Arifin terhadap Anneke bukanlah sekadar sikap profesional atau prasangka. Sebaliknya, ia menyimpan komitmen hati yang dalam.

Tiga tahun sebelum pertemuan dengan Anneke, Arifin telah bertunangan dengan Sari, putri tetangganya yang bekerja sebagai penenun. Hubungan mereka tumbuh secara alami sejak masa kanak-kanak. Upacara sederhana namun penuh makna merayakan pertunangan mereka di kampung halaman.

Sari memiliki kecantikan yang tidak mencolok namun memancarkan ketenangan. Meskipun status sosial mereka sederhana, cinta mereka tumbuh di atas dasar kesetaraan dan saling pengertian. Janji mereka dirahasiakan karena Arifin ingin menyelesaikan masa kerjanya dengan baik sebelum membawa Sari ke rumah baru.

Konflik Batin Arifin

Ketika Anneke mulai menunjukkan ketertarikannya, Arifin berada dalam situasi sulitDi satu sisi, sebagai pegawai yang dihormati Hendrik, ia harus menjaga sikap profesional. Di sisi lain, hatinya sudah terikat dengan janji pada Sari.

Setiap malam setelah pulang kerja, Arifin mengunjungi Sari. Dalam surat-surat cinta mereka, Arifin menulis: “Meskipun dunia menawarkan kemewahan, hatiku tetap milikmu. Janji kita lebih berharga dari semua teh di Gunung Sari.”

Penolakan Arifin dalam pertemuan di paviliun adalah hasil perenungan panjang. Bukan karena Anneke kurang menarik, tapi karena status hatinya yang sudah terikat. “Bukan tentang apa yang Nyonya lakukan,” katanya dengan makna ganda.

Bab V: Dua Wajah Arwah Anneke

[Kilas Balik 1942]

Setelah kematiannya, arwah Anneke van Deventer menunjukkan dua sisi berbeda. Di satu sisi, ia tampil penuh penyesalan dan kedamaian. Di sisi lain, ia menjelma sebagai jelmaan kemarahan dan dendam.

Pertemuan Terakhir yang Mengharukan

Malam setelah kematiannya, Arifin terbangun di pondoknya. Tiba-tiba, ia melihat Anneke berdiri di ambang pintu. Secara khusus, wujudnya sama seperti saat masih hidup, hanya sedikit tembus pandang dan diselimuti cahaya keemasan lembut.

“Arifin,” suaranya terdengar seperti angin sepoi-sepoi. “Sebagai permulaan, aku datang untuk meminta maaf.”

Arifin tidak merasa takut. Wajah Anneke yang biasanya angkuh kini tampak lembut dan penuh penyesalan.

“Maafkan aku, Arifin. Pertama, maafkan kesombonganku. Kedua, cintaku padamu sejati, tapi aku tidak tahu cara menyatakannya dengan benar.”

Selanjutnya, air mata bayangan jatuh dari mata birunya. “Pada dasarnya, aku tidak menyesal mencintaimu. Namun, yang kusesali adalah caraku yang salah.”

Arifin mengangguk perlahan. Oleh karena itu, “Aku sudah memaafkanmu, Noni Anneke. Tenanglah sekarang.”

Kemudian, senyum sedih mengembang di wajah Anneke. “Sebagai kesimpulan, terima kasih. Sekarang aku harus pergi.” Setelah itu, cahaya di sekelilingnya berangsur memudar. Akhirnya, bisikan terakhirnya terdengar: “Jagalah dirimu, Arifin.”

Teror di Penjara Sukamiskin

Namun, sisi Anneke yang menghadapi Cornelis sangat berbeda.

Penjara Sukamiskin menjadi neraka hidup bagi Cornelis. Setiap malam, dalam sel gelapnya, ia melihat Anneke berdiri di sudut sel. Berbeda dengan Anneke yang lembut seperti yang dilihat Arifin, justru Anneke dengan lubang peluru di dadanya yang muncul.

“Kenapa kau bunuh aku, Cornelis?” suara Anneke bergema dalam kepalanya. Lebih jauh, suaranya keras dan penuh tuduhan. “Sebenarnya, aku hanya jatuh cinta… seperti kau jatuh cinta padaku.”

Cornelis menjerit-jerit memohon ampun. Meskipun penjaga penjara mengira ia gila, tetapi Cornelis tahu—Anneke benar-benar ada di sana.

Semakin ia takut, semakin jelas penampakan itu. Begitu juga, semakin ia berusaha lari, semakin dekat ia merasa sang noni Belanda itu berada.

Akhir Hidup Cornelis yang Ironis

Pada malam ketujuh, Cornelis tidak tahan lagi. Oleh karena itu, ia merobek kain seragamnya menjadi tali. Saat mengikatnya ke jeruji sel, ia melihat Anneke tersenyum sinis dari kegelapan.

“Kita akan bersama selamanya sekarang, Cornelis,” bisik suara itu.

Keesokan harinya, penjaga menemukan tubuh Cornelis tergantung. Selain itu, ekspresi wajahnya menunjukkan kelegaan. Dengan demikian, ia akhirnya menemukan jalan keluar dari teror yang ia ciptakan sendiri.

Loading

0 0 suara
Article Rating
Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Tampilkan Lebih Banyak

R.TOFAN

Ilmu pengetahuan tidak lagi hanya berdebu di rak buku; ia kini mengalir di sela jempol dan layar. Jangan remehkan apa yang kamu baca di website, karena jendela dunia kini berbentuk digital
Berlangganan
Memberitahukan tentang
guest
0 Comments
Terbaru
Tertua Paling Banyak Dipilih
Tombol kembali ke atas
0
Saya ingin mendengar pendapat Anda, silakan berkomentar.x