
Kilas Balik Obat Penenang Jaman Dulu:
Lexotan, BK, Nipam, dan Rohypnol – Kegunaan, Efek Samping, dan Alasan Dilarang
Efek Samping dan Bahaya Penyalahgunaan
Sayangnya, popularitas BK justru melambung karena penyalahgunaannya. Anak muda era 90an menemukan bahwa minum BK dalam jumlah banyak dapat memberikan efek halusinasi ringan dan euforia. Mereka menyebutnya “mabuk BK” atau “nge-fly”.
Jika dikonsumsi dalam dosis berlebihan, kandungan dextromethorphan mempengaruhi reseptor NMDA di otak. Akibatnya, pengguna mengalami efek dissociative—merasa keluar dari tubuh sendiri, melihat benda bergerak-gerak, atau mendengar suara-suara.
Selain itu, pengguna BK dalam kondisi mabuk sering kehilangan keseimbangan, bicara pelo, dan berjalan sempoyongan. Kondisi ini menyebabkan banyak kecelakaan lalu lintas di kalangan remaja era 90an.
Efek samping lain yang umum muncul adalah mual hebat dan muntah-muntah. Beberapa kasus keracunan BK mengharuskan pengguna dilarikan ke rumah sakit karena dehidrasi berat.
Yang lebih mengkhawatirkan, konsumsi rutin dalam jangka panjang membebani kerja hati dan ginjal. Banyak mantan pengguna BK mengeluhkan gangguan fungsi hati di kemudian hari.
Melihat maraknya fenomena penyalahgunaan ini, pemerintah dan BPOM akhirnya mengambil tindakan tegas. Pemerintah membatasi peredaran obat ini bahkan menariknya dari pasaran. Saat ini, hanya dokter yang dapat memberikan BK dengan resep, dan produsen pun mengubah formulanya untuk mengurangi risiko penyalahgunaan.
Nipam: Si Hitam Penenang dari Warung

Kegunaan Medis
Nipam hadir sebagai salah satu merek obat penenang yang sangat populer di era 80-90an. Berbeda dengan Lexotan yang berasal dari pabrik farmasi besar, Nipam lebih dikenal sebagai obat “warung” yang mudah didapat di mana saja. Kemasannya sederhana, harganya murah, dan efeknya cepat terasa.
Nipam mengandung bahan aktif golongan benzodiazepin ringan yang diformulasikan untuk mengatasi gangguan tidur ringan dan kecemasan. Pada masa itu, banyak buruh pabrik, sopir angkutan umum, dan pekerja kasar mengandalkan Nipam untuk bisa tidur nyenyak setelah bekerja seharian.
Efek Samping dan Bahaya Penyalahgunaan
Popularitas Nipam justru melambung karena penyalahgunaannya di kalangan kelas pekerja dan anak jalanan.
Pengguna mengonsumsi Nipam tidak hanya untuk tidur, tetapi untuk mendapatkan efek melayang, santai, dan bebas masalah. Mereka merasa semua beban hidup lenyap seketika setelah menelan beberapa butir Nipam.
Sayangnya, banyak kasus sopir angkutan umum yang mengonsumsi Nipam lalu mengemudi dalam kondisi setengah sadar. Kecelakaan lalu lintas akibat sopir “mabuk Nipam” sering mewarnai berita di era 90an.
Pengguna juga sering mengalami amnesia jangka pendek. Mereka tidak ingat apa yang terjadi selama beberapa jam setelah mengonsumsi Nipam. Mereka bisa melakukan aktivitas seperti bicara atau berjalan, tetapi keesokan harinya tidak ingat sama sekali.
Pada tingkat dosis tinggi, Nipam dapat memperlambat detak jantung dan pernapasan hingga titik kritis. Kasus kematian akibat overdosis Nipam sempat tercatat, terutama ketika pengguna mengombinasikannya dengan alkohol.
Seperti halnya obat penenang lain, Nipam juga menyebabkan ketergantungan. Pengguna berat akan mengalami gejala putus obat yang tidak mengenakkan jika tidak mengonsumsinya: gelisah, berkeringat dingin, jantung berdebar, hingga tremor.
Rohypnol (Flunitrazepam): Obat Penenang Paling Kontroversial

Kegunaan Medis
Rohypnol adalah nama dagang untuk zat aktif Flunitrazepam, salah satu golongan benzodiazepin paling kuat yang pernah beredar. Perusahaan farmasi Roche pertama kali mengembangkan obat ini sebagai hipnotik (obat tidur) dengan efek yang sangat cepat dan kuat.
Secara medis, dokter meresepkan Rohypnol untuk penanganan insomnia berat jangka pendek. Obat ini bekerja dengan mengikat reseptor GABA di otak, menghasilkan efek sedasi yang dalam, relaksasi otot, dan efek anticemas. Bahkan dengan dosis rendah sekalipun, Rohypnol mampu mempercepat waktu tidur dan menghasilkan tidur nyenyak selama 6-8 jam.
Di beberapa negara seperti Brasil dan negara-negara Eropa, otoritas setempat masih mengedarkan Rohypnol sebagai obat resep dengan pengawasan ketat. Dokter umumnya meresepkan 0,5 hingga 1 miligram per hari untuk dewasa, dan dalam kasus luar biasa dapat meningkat hingga 2 miligram. Para ahli menyarankan durasi penggunaan maksimal 4 minggu dengan penghentian bertahap untuk menghindari ketergantungan.
Status Hukum di Indonesia
Pemerintah pernah mendaftarkan Rohypnol sebagai obat impor pada tahun 1981. Namun, Badan POM tidak pernah memperpanjang registrasinya. Dengan kata lain, jika saat ini masyarakat menemukan produk Rohypnol di pasaran, otoritas kesehatan mengkategorikan produk tersebut sebagai ilegal.
Ragam Efek yang Dihasilkan
Obat ini menghasilkan sedasi berat dan kantuk yang intens, relaksasi otot yang menyeluruh, efek anticemas, serta mampu mempercepat waktu tidur dan memperpanjang durasi tidur.
Efek samping yang sering muncul antara lain pusing dan kelelahan ekstrem, gangguan kognitif dan penurunan daya ingat, bicara pelo, gangguan koordinasi motorik dan keseimbangan, tremor dan kelemahan otot, penurunan tekanan darah, mual dan muntah, serta kebingungan dan disorientasi.
Pada sebagian kecil pengguna, Rohypnol dapat menimbulkan reaksi paradoks—efek yang justru berlawanan dari yang diharapkan. Fenomena ini ditandai dengan gelisah dan agitasi, peningkatan agresivitas dan perilaku kekerasan, hiperaktivitas dan ketidakmampuan diam, ledakan amarah dan permusuhan, halusinasi dan psikosis sementara, serta disinhibisi seksual. Studi menunjukkan bahwa individu dengan riwayat agresi, kontrol impuls buruk, atau gangguan kepribadian antisosial memiliki risiko lebih tinggi mengalami reaksi paradoks ini.
Efek Anterograde Amnesia
Salah satu efek paling berbahaya dari Rohypnol adalah kemampuannya menyebabkan amnesia anterograde—pengguna tidak dapat membentuk ingatan baru selama beberapa jam setelah konsumsi. Mereka dapat melakukan aktivitas seperti berbicara, berjalan, atau bahkan berperilaku kompleks, tetapi keesokan harinya tidak mengingat apa pun yang terjadi.
Efek amnesia inilah yang membuat Rohypnol terkenal sebagai “date rape drug” atau obat pemerkosaan. Pelaku kejahatan menyelundupkan obat ini ke dalam minuman korban tanpa sepengetahuan korban (drink spiking). Karena tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, korban tidak menyadari telah mengonsumsi obat. Dalam 20-30 menit, korban mengalami sedasi berat, kehilangan kesadaran, dan amnesia—sehingga tidak dapat melawan atau mengingat kejadian yang menimpanya.
Gejala Jika Dicampur Alkohol
Kombinasi Rohypnol dengan alkohol sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal. Alkohol memperkuat efek depresan sistem saraf pusat dari Rohypnol, menyebabkan intoksikasi yang sangat parah, sedasi ekstrem hingga kehilangan kesadaran, depresi pernapasan berat (napas melambat hingga berhenti), bradikardia (detak jantung melambat), serta koma hingga kematian.
Dampak Jangka Panjang
Ketergantungan dan Adiksi
Rohypnol memiliki potensi adiksi yang sangat tinggi. Penggunaan rutin dalam beberapa minggu saja sudah dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikologis. Pengguna akan merasa tidak dapat berfungsi normal tanpa obat.
Toleransi
Seiring waktu, tubuh menjadi terbiasa dengan obat sehingga diperlukan dosis yang lebih besar untuk mencapai efek yang sama. Hal ini mendorong pengguna untuk meningkatkan dosis secara berbahaya.
Gejala Putus Zat
Penghentian mendadak dapat memicu gejala berat pada pengguna ketergantungan, seperti kecemasan ekstrem dan agitasi, insomnia berat, tremor dan keringat dingin, halusinasi dan delusi, kejang hingga status epileptikus, serta delirium dan disorientasi. Untuk kasus yang lebih berat, withdrawal Rohypnol dapat mengancam jiwa dan memerlukan penanganan medis intensif.
Overdosis
Overdosis Rohypnol dapat terjadi bahkan pada dosis yang tidak terlalu tinggi, terutama jika dikombinasikan dengan alkohol atau opioid. Gejala overdosis meliputi sedasi berat hingga koma, depresi pernapasan, henti jantung, dan kematian.
Kerusakan Kognitif Permanen
Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan memori permanen, penurunan fungsi kognitif, dan kesulitan konsentrasi yang menetap.
Langkah Pencegahan Penyalahgunaan
Masyarakat perlu waspada terhadap penyalahgunaan Rohypnol, terutama sebagai modus kejahatan seksual. Berikut langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan:
Tinggalkan minuman dalam pengawasan – Jangan pernah meninggalkan minuman tanpa pengawasan di tempat umum
Perhatikan perubahan warna – Rohypnol versi baru mengandung pewarna biru yang akan membuat minuman berwarna kebiruan
Tolak minuman dari orang asing – Jangan menerima minuman dari orang yang tidak dikenal
Segera cari bantuan – Jika merasa tiba-tiba mengantuk berat atau mual setelah minum, segera cari teman atau petugas keamanan
Masih Banyak Lagi Obat Penenang Sejenis di Era 90an
Perlu kami sampaikan bahwa Lexotan, BK, Nipam, dan Rohypnol hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak obat penenang dan psikotropika yang beredar bebas di era 80-90an. Masih banyak nama-nama lain yang juga populer pada masanya, antara lain Dumolid dan Mogadon (mengandung nitrazepam), Valium (mengandung diazepam), Xanax (mengandung alprazolam), Ativan (mengandung lorazepam), Riklona (mengandung clonazepam), serta istilah umum “Pil Koplo” untuk obat penenang ilegal yang dijual bebas.
Setiap obat di atas memiliki karakteristik, efek samping, dan tingkat ketergantungan yang bervariasi. Namun satu kesamaan yang mencolok: semuanya kini masuk dalam daftar psikotropika yang penggunaannya diawasi ketat oleh pemerintah dan hanya dapat diperoleh dengan resep dokter.
![]()
Sangat bermamfaat